Senin, 20 Oktober 2014

20 Manfaat Lidah Buaya

KOMPAS.com - Lidah buaya disebut juga dengan aloevera. Anda pasti familiar dengan tanaman yang satu ini. Tanaman berwarna hijau yang terkenal berfungsi menyuburkan rambut dan melicinkan kulit ini adalah jenis vegetasi yang sering kita temui di halaman rumah.
Tapi tahukah Anda bila tanaman ini mempunyai manfaat lain selain untuk kosmetik. Berikut beberapa manfaat tanaman lidah buaya:

1. Mendinginkan kulit yang terbakar sinar matahari, terutama bagi  mereka yang kerap bekerja di luar ruangan.

2. Mengatasi masalah kulit yang disebabkan cuaca, seperti kulit  kering, kemerahan, mengelupas, dan iritasi ringan atau ruam.

3. Memudarkan warna kemerahan pada memar di tubuh.

4. Mengatasi rasa tidak nyaman yang disebabkan alat cukur.

5. Mengatasi luka bakar ringan.

6. Meredakan kulit yang melepuh.

7. Dapat digunakan sebagai krim anti penuaan dini atau untuk mengatasi  keriput.

8. Mengobati ruam akibat terkena getah tanaman.

9. Mengatasi rasa gatal akibat gigitan serangga.

10. Gunakan setiap hari untuk memudarkan bekas luka dan strecth mark, garis-garis putih atau merah akibat kehamilan.

11. Merawat luka kecil akibat teriris pisau atau   tergores.

12. Memudarkan bintik bintik kehitaman pada kulit.

13. Dapat berguna sebagai pengganti kondisioner dan jelly untuk rambut.

14. Bisa digunakan untuk mengurangi jerawat.

15. Digunakan untuk mempercepat penyembuhan sariawan.

16. Dapat digunakan sebagai body lotion alami.

17. Untuk meredakan otot yang keram atau menegang.

18. Digunakan untuk mengurangi keluhan pada masalah gusi.

19. Mengurangi ketombe pada kepala.

20. Mengatasi kutu air.

(Dery Adhitya Putra)


Kamis, 16 Oktober 2014

Danau Mensubuk

Mensubuk" konon merupakan danau purba yang mampu menyimpan air dalam jumlah banyak. Aneka jenis ikan, buaya senjulung mendiami kawasan ini berada  d

i desa Tanjung Pura dan Desa Mayak Kec. Muara Pawan Ketapang

Rabu, 15 Oktober 2014

Rock Painting Benawai Agung , Purbakala KKU

Sukadana adalah batu cap atau batu bergambar (rock painting) yang berada di Desa Sedahan, kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, merupakan salah satu peninggalan sejarah pada masa lampau. Peninggalan ini diduga merupakan warisan nenek moyang bangsa Ketapang yang pertama kali meninjakkan kaki di Kalimantan.
Keturunan orang Ketapang menurut legenda berasal dari Indochina atau India belakang, berimigrasi ke Kalimantan dan terlebih dahulu singgah di Kepulauan Karimata. Kemudian tempat pendaratan ke dua adalah Sukadana yang pada masa dulu merupakan tempat yang strategis dilihat dari Laut Cina Selatan
Batu bergambarkan coretan yang sampai kini belum jelas artinya ini merupakan situs purbakala yang ditemukan sejak tahun 1874 diduga merupakan jejak imigran itu. Menurut beberapa Arceolog yang datang, batu bertulis ini sudah tercatat di Jakarta sebagai Situs Purbakala, ditemukan sejak tahun 1874 tetapi tidak mengetahui siapa yang menemukan perama kali batu itu. Dugaan sementara batu ini ada pada zaman sebelum mengenai tulisan , jauh lebih tua dari batu bertulis yang ada.
Batu Cap ini ramai dikunjungi oleh kalangan orang Tionghoa, untuk berbagai keperluan. Sedang pihak pengunjung lain misalnya adalah para peneliti dari Pusat Arkeolog nasional di Jakarta dan para peneliti muda bidang pra sejarah dari Balai Arkeolog yang ada di Bandung dan sejumlah Mahasiswa peneliti lainnya.



Kepala Kantor Informasi Kebudayaan dan pariwisata (inbudpar)Ketapang Yudo Sudarto usai mengadakan kunjungan ke situs ini mejelaskan, bahwa jati diri sebuah bangsa merupakan kekuatan utama untuk menghadapi persaingan global yang terasa semakin ketat dewasa ini. Kearifan masa lalu dapat dipakai sebagai pijakan menentukan arah strategi suatu bangsa untuk mempertahankan eksistensinya. Karena disadari atau tidak, nilai-nilai yang terkandung dalam objek peninggalan masa lalu sangat bermanfaat, antara lain dalam bidang akademi, ideologi, serta ekonomi. Untuk mengunjungi tempat ini dapat menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua. Tranportasi cukup lancar, namun pengunjung perlu menempuh berjalanan mendaki selama 1 jam untuk dapat mencapai lokasi di bukit yang cukup terjal.
Gua tersebut merupakan gua alam, diduga merupakan tempat pemujaan atau tempat bersemedi nenek moyang bangsa Indonesia. Lebar batu 14 meter dengan dinding yang bergambar seluas 10 m2. Tulisan yang tampak berbentuk coretan gambar dan lambang-lambang seperti huruf paku yang tidak jelas. Belum banyak yang diungkap dari para peneliti mengenai batu cap ini, mengingat struktur huruf atau gambar yang berbeda dengan penemuan lainnya di Indonesia. Situs ini sekarang sudah masuk cagar Budaya di Kabupaten Ketapang.

Dari : Wikipedia Indonesia

Kamis, 09 Oktober 2014

Gua Liang Maros

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Dinding gua berusia 40.000 tahun yang ada di Desa Maros Sulawesi Selatan ditemukan tahun 1950-an, kini diungkap lagi oleh majalah Nature Japan edisi hari ini, Kamis (9/10/2014).
Menurut tulisan di majalah tersebut, penemuan ini sebenarnya telah diungkapkan tahun 1950-an namun entah mengapa menghilang dan baru saat ini diungkapkan kembali. Temuan bersejarah ini tampak penuh erosi karena berjalannya waktu puluhan tahun.
Warnanya kuning kecoklatan, dengan gambar telapak tangan sebanyak 12 buah dan dua gambar binatang. Kalangan anthropolog Eropa Barat masih mencari tahu lebih lanjut mengenai dinding gua kuno ini yang dapat mengarahkan penjajakan kepada mahluk homosapiens di masa lalu.
Di Desa Maros tersebut ada tujuh gua kuno yang perlu digali lebih lanjut untuk mengetahui perkembangan manusia dan mahluk lain dari masa puluhan ribu tahun yang lalu.

Jumat, 29 Agustus 2014

Akar kayu kuning kalimantan semakin sulit diperoleh


Sumber : Antara News, 7 Agustus 2014
Oleh : Adi Sagaria
Sangatta Akar kayu kuning yang merupakan tumbuhan obat tradisional Kalimantan, saat ini semakin sulit didapatkan."Sangat sulit sekarang untuk bisa menemukan kayu akar kuning di hutan," kata Uyang, warga suku Dayak Kenyah, di Sangatta, Kalimantan Timur, Kamis. Uyang, warga suku Dayak Kenyah yang tinggal di Dusun II desa Sangkima Lama, Sangatta Selatan, Kutai Timur ini, mengatakan, akar kayu kuning banyak sekali manfaatnya sebagai obat tradisional.Dulu akar kayu kuning ini sangat mudah ditemukan bahkan bisa ditemukan di sekitar kebun-kebun, namun sekarang sangat susah dan bisa dikatakan sudah mulai langka.
Dikatakan Uyang, akar kayu kuning makin sulit ditemukan karena hutan sudah habis dibabat oleh perusahaan dan warga untuk kepentingan mereka.Hutan Kalimantan termasuk Kutai Timur dulunya banyak menyimpan tanaman-tanaman khusus yang bisa dijadikan sebagai obat tradisional yang luar biasa, seperti untuk mengobati sakit perut, sakit kepala, digigit binatang, penyakit kuning, obat malaria dan untuk kesehatan tubuh sebagai jamu. "Bahkan ada salah satu jenis tumbuhan yang bisa menyembuhkan bisa gigitan ular dan sejenisnya sekarang tidak bisa lagi ditemukan," kata Uyang tanpa menyebut nama jenis kayu tersebut.
"Sangat banyak jenis tumbuhan khas Kalimantan termasuk kayu akar kuning tidak bisa lagi ditemukan karena hutan sudah dibabat," katanya.

Kamis, 28 Agustus 2014

Pohon Pasak Bumi terancam punah


Sumber : Antara News, 3 Agustus 2014
Oleh : Adi Sagaria
Sangatta Warga masyarakat Suku Dayak Basap di Desa Karangan Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timiur, semakin khawatir pohon langka Pasak Bumi terancam punah akibat pembukaan lahan perusahaan. Menurut Firmansyah, salah satu tokoh masyarakat Suku Basap di daerah itu, pembabatan hutan untuk kepentingan perusahaan mengancam keberadaan pohon Pasak Bumi dan tumbuhan hutan lainnya yang bermanfaat bagi manusia. "Pohon Pasak Bumi di Karangan terancam punah dan musnah akibat pembukaan lahan untuk kepentingan perkebunan kelapa sawit dan tambang batubara," kata Firmansyah, Minggu. Pohon Pasak Bumi, kata Firmansyah merupakan salah satu jenis pohon yang paling berharga dan bermanfaat bagi masyarakat suku Basap, karena manfaatnya sangat dibutuhkan bagi kesehatan tubuh manusia.
Sejak puluhan tahun, masyarakat suku Basap hanya menggunakan obat tradisional dari kayu pasak bumi, namun kami prihatin dalam waktu beberapa tahun mendatang akan musnah dan punah. Pohon jenis Pasak Bumi ini, kata dia, saat ini hanya bisa didapatkan di hutan dan tempat-tempat tertentu. Sedangkan di tempat atau lokasi yang dulunya banyak ditemui kini sudah habis digusur untuk kebun. "Kami juga warga Suku Basap sulit untuk melakukan budidaya pasak bumi, sebab tidak semua tempat cocok ditanami. Ini pohon langka jadi sulit dibudidayakan," ujarnya. Bahkan lanjut dia, sampai sekarang ini juga belum pernah melihat bentuk dan warna buah dan bunganya. Makanya agak sulit untuk di budidaya.

Senin, 25 Agustus 2014

Tikus Raksasa Hebohkan Warga Kutai Timur

Liputan6.com, Kutai Timur - Dalam beberapa hari terakhir, warga Kutai, Kalimantan Timur, dihebohkan penemuan tikus raksasa. Hewan mirip babi yang ditangkap warga Sangatta, Kutai Timur pada Selasa 19 Agustus pekan lalu itu diperkirakan tikus raksasa langka dan nyaris punah.

"Saya belum dapat laporan, tapi kalau berwarna putih itu tikus raksasa," kata Kepala Balai Taman Nasional Kutai (BTNK) Erly Sukrismanto, saat dikonfirmasi, Minggu (24/8/2014).

Erly mengatakan pula, ia akan memerintahkan anak buahnya untuk mengecek ke tempat kejadian perkara (TKP) untuk mengetahui persis jenis hewan tangkapan warga Teluk Lingga itu.

"Saya akan perintahkan staf saya, Senin (25 Agustus 2014) ke TKP untuk melihat hewan itu," ujar dia.

Senada dengan Erly, dokter hewan Cut Meutia mengatakan hewan itu termasuk jenis tikus raksasa yang sudah jarang ditemukan bahkan salah satu hewan langka di dunia.

Menurut Cut Meutia, Hispaniola solenodon termasuk hewan langka yang hampir punah. Dan dia memiliki bisa berbahaya yang keluar dari air liur seperti ular.

Ia menjelaskan, solenodon ini akan mengeluarkan racun dari dalam tubuhnya jika merasa terancam ada musuh. Terutama bila mengenai tubuh atau badan yang luka bisa berbahaya.

"Racun dari hewan ini jika mengenai tubuh bisa menyebabkan kelumpuhan dan hingga kematian. Oleh karena itu sebaiknya tidak mendekatinya di saat tertentu," kata drh Cut Meutia yang mengaku telah melihat hewan tersebut.

Disebutkan Cut Meutia berdasarkan penelusuran yang diketahuinya, hewan ini berasal dari Kuba, bulu yang berwarna putih, mempunyai hidung yang panjang sekitar 25 centimeter dan berbau.

"Hewan ini termasuk unik di dunia, langka dan nyaris punah," jelas wanita yang bekerja pada Bagian Pengolahan Hasil Peternakan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kutai Timur, kemarin.

Sebelumnya, Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Peternakan, Diah Ningrum, mengatakan hewan atau binatang tersebut merupakan hewan langka dan beracun.

Hewan tersebut adalah solenodon merupakan mamalia kecil mirip tikus besar dan mirip babi dengan mulut moncong panjang dan ekor panjang bersisik.

"Hewan solenodon ini memiliki air liur beracun berbisa sehingga bisa menyuntik mangsanya hingga menyebabkan kematian," ujar Diah. (Ant)