Senin, 23 Juli 2012

Sambut Ramadan Dengan Meriam Padam Pelite

Menyambut bulan suci ramadhan 1433 hijriah yang jatuh pada tanggal 21 juli 2012 hari sabtu, Dewan mangku ikatan keluarga besar kerajaan matan tanjungpura kabupaten ketapang mengadakan kegiatan penyambutan bulan suci ramadhan dengan acara ritual budaya letupan meriam pusaka “padam pelite  . Sebelum meriam “padam pelite” dinyalakan proses adat dilakukan terhadap benda pusaka ini. diawali doa selamat, penggawe adat mulai membuka kain kuning 5 helai satu persatu yang menyelimuti meriam tersebut, kemudian dilanjutkan siraman airkembang tujuh rupa dan tepung tawar..  Prosesi adat selesai, meriam diangkat menuju halaman keraton untuk dinyalakan. kini giliran pesuluh yang mengisi obat meriam agar dapat berbunyi, dan setelah disumbat meriam siap dinyalakan sebagai tanda awal memasuki bulan suci ramadhan. Ketua dewan pemangku pangeran ratu kertanegara ir. gusti kamboja dalam penjelasannya mengatakan menurut cerita zaman dulu, jika meriam pusaka atau meriam padam pelite tersebut dibunyikan sebagai wujud partisipasi kerajaan dalam menyambut satu ramadan. Meriam padam pelite merupakan benda pusaka peninggalan kerajaan matan tanjungpura yang di simpan di keraton kerajaan matan tanjungpura.. Acara ritual tersebut dilaksanakan pada hari jum’at tanggal 20 juli 2012, di halaman depan keraton gusti muhammad saunan yang berada di desa mulia kerta kecamatan benua kayong. acara tersebut dihadiri beberapa instansi terkait antara lain kepala disbudparpora ketapang yudo sudarto, sp. wakapolres ketapang  dan beberapa sesepuh dewan mangku ikatan keluarga besar kerajaan matan tanjungpura, diantaranya ir. h. gusti kamboja, gusti jamaludin, dan uti assaii.


Jumat, 23 Maret 2012

Ekoturisme Indonesia dilirik wisatawan Swiss

Pusat-pusat rehabilitasi Orangutan dan tujuan Ekotourisme atau wisata lingkungan seperti pusat-pusat pembelajaran lingkungan yang diperuntukan bagi masyarakat setempat dilirik oleh wisatawan Swiss.

Hal ini terliat dengan adanya perhatian dari Presiden Yayasan Paneco, yayasan lingkungan hidup berpusat di Zurich, Mrs. Regina Frey didampingi wartawan televisi dari "TeleZuri", berkunjung ke daerah konservasi Orangutan di Bukitlawang. Staf Pensosbud KBRI Bern, Budiman Wiriakusumah kepada ANTARA News, London, Kamis menyebutkan KBRI Bern bekerjasama dengan TeleZuri, mengundang Mrs. Regina Frey berkunjung ke daerah konservasi Orangutan di Bukitlawang.

Dalam kunjungannya sejak 10 Februari hingga 8 Maret mereka mengunjungi pusat-pusat pembelajaran lingkungan yang diperuntukan bagi masyarakat setempat di Sumatera Utara. Hal ini dilakukan untuk melihat sendiri tentang usaha-usaha yang dilakukan Yayasan Paneco yang bekerjasama dengan pemerintah Indonesia dan beberapa LSM lokal dalam malakukan rehabilitasi dan konservasi Orangutan di Sumatra. Swiss dengan produk domestik bruto (PDB) per kapita 90.149 dolar AS atau 395 juta pertahun, berpenduduk 7.3 juta jiwa serta menempati wilayah 41 ribu kilometer. Menurut data Majalah Global Finance, negara Swiss termasuk didalam 10 negara terkaya didunia. Swiss juga dikenal sebagai negara tempat orang-orang kaya dunia menyimpan hartanya dan merupakan pusat wisata dunia.

Hal ini membuat strategi pemasaran banyak negara dengan destinasi wisatanya di Swiss, begitu juga Indonesia, target dari promosi wisata Indonesia tidak hanya ditujukan kepada penduduk swiss namun juga wisatawan dunia yang berkunjung ke Swiss. Penduduk Swiss mengangap liburan adalah suatu kebutuhan utama dan merupakan hak dari setiap individu, sehingga dalam menyusun anggaran rumah tangganya selalu menyisihkan dana untuk berwisata paling tidak setahun sekali. Bahkan bagi kelas menengah ke atas bepergian keluar negeri dapat dilakukannya setahun dua kali. Dikatakannya melihat kesempatan emas ini KBRI Bern terus berupaya mengenalkan destinasi wisata Indonesia yang masih belum banyak dikenal dengan mencocokannya dengan kebutuhan serta karakteristik wisatawan Swiss.

Upaya KBRI Bern menerbitkan buku panduan mengenai destinasi Indonesia, mengadakan promosi di transportasi umum, membuka gerai-gerai informasi wisata dalam setiap kegiatan lembaga persahabatam Indonesia-Swiss. Selain melakukan "Diplomacy by proxy" dengan membantu dan mengajarkan kepada kelompok-kelompok masyarakat swiss musik traditional Indonesia seperti Angklung, dengan grup angklung "Pakasuka". Bekerjasama dengan sekolah musik 123 (Un, Deux, Trois) di Sion, Daerah Swiss yang berbahasa Perancis memperkenalkan musik gamelan. Masih banyak destinasi Ekoturisme Indonesia yang perlu diperkenalkan sebagai destinasi wisata Indonesia, destinasi seperti Kerinci Seblat Nasional Park, Siberut National Park di Sumatera, Ujung Kulon, Baluran National Park, Alas Purwo National Park di Jawa.

Belum lagi di bagian timur Indonesia: Selayar, Tangkoko Duasaudara Resort, Togean Islands, Wakatobi Marine National Park, ujar Budiman Wiriakusumah. Indonesiapun perlu berbenah diri dalam menyambut kedatangan wisatawan hijau dari macanegara. Ekotourisme bukan hanya diartikan sebagai berwisata kedaerah hijau namun berwisata dengan rasa tanggung jawab kedaerah daerah natural yang dikonservasi yang penting meningkatkan taraf hidup penduduk setempat, demikian Budiman Wiriakusumah. (Sumber : Antara News, 29 Februari 2012 )

London

BACK

Tarian Laut Ditengah Pesatnya Pengaruh Budaya Global

“Tanjung Katung Airnya Biru, tempat dara mencuci muka. Lagi sekampung hatiku rindu, kononlh jauh di mata. Asal kapas menjadi benang, benang ditenun menjadi kain. Orang yang lepas jangan dikenang, sudah menjadi si orang lain”.....lirik lagu Melayu Tanjung Katung dinyanyikan sambil menari dan berpantun yang tidak putus-putus oleh masyarakat Dusun Pulau Cempedak, Desa Kendawangan Kiri, Sabtu (17/3) malam.

Menari sambil membawakan lirik berpantun ternyata sungguh mengasyikkan. Tertawa dan bergoyang, menjadikan Pulau yang sepi mendadak hangat dan ramai. Inilah yang terjadi di Pulau Cempedak, Sabtu (17/3). Walaupun Tarian Laut hanya didukung dengan bunyi dendang dan dan gong, dan sekali-kali tiupan seruling dimainkan Mochtar, dari Dinas Kebudayaan Pariwisata, Pemuda dan Olahraga kabupaten Ketapang, ternyata arian laut mampu mengundang seluruh warga Pulau Cempedak untuk berkumpul dan berhibur bersama. Pulau yang sepi dan hanya terdengar deburan ombak ini sontak berubah. Keheningan malam berubah tawa dan canda di depan kediaman Narasi, Kepala Dusun Pulau Cempedak.
Membawakan tarian laut tidak sulit. Penari cukup menghafal beberapa gerakan sederhana, maju dan mundur beberapa langkah. Sambil membalas pantun mengikuti irama, maka Tarian Laut ini menjadi hiburan menarik.
“Seni budaya tradisional daerah ini sudah semakin jarang ditemui, tari laut ini sudah sangat langka,” kata Yudo Sudarto, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata pemuda dan Olahraga Kabupaten Ketapang yang hadir di Pulau Cempedak menghadiri lomba olahraga tradisional.
Pengakuan Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata pemuda dan Olahraga Kabupaten Ketapang, selain di Pulau Cempedak, Kecamatan Kendawangan, pihaknya hanya menemukan tarian Laut ini di Desa Sungai Tengar, dan Pulau Bawal, Kecamatan Kendawangan. Selain jarang dipentaskan, seni budaya hanya sebagian kecil warga yang mau mempelajarinya. Karena itu, Yudo Sudarto, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata pemuda dan Olahraga kabupaten Ketapang berharap seni budaya daerah ini dipertahankan dan diwariskan kepada generasi muda lainnya. Jangan sampai warisan ini hilang begitu saja. Sebab, justru seni budaya seperti inilah yang mampu membawa nama besar daerah untuk bicara dikancah nasional dan internasional.
Semakin tergerusnya “Tarian Laut” diakui Ermansyah, Kasi Pelestarian Budaya Dinas Budparpora Ketapang. Dalam kegiatan Olahraga Tradisional yang dilakukan Bidang Pemuda dan Olahraga, maka bidang Kebudayaan juga ikut ambil bagian. Beberapa peralatan musik tradisional diserahkan ke warga setempat agar seni budaya ini tidak tergerus oleh perubahan zaman. “Pada beberapa tahun lalu, Tari Laut ini pernah kita bawa sampai tingkat propinsi dan nasional, kita sangat berharap seni budaya ini bisa bertahan dan berkembang,” kata Ermansyah.
Tarian Laut ini sudah cukup lama mengakar pada masyarakat pulau Cempedak. Menurut Bagok, tarian ini sudah ada sejak masa lalu yang ditinggalkan oleh orang-orang tua mereka.
Tarian laut merupakan persembahan dari sebuah seni tari yang bertujuan untuk keselamatan pada yang kuasa. Karena itu, bentuknya lagu yang dimainkan juga berbeda-beda. Irama sendu dan pantun lama juga bisa membuat orang yang mendengarkannya sampai meneteskan air mata. Didampingin Keral, Bagok menceritakan hanya sebagian kecil diantara warga Pulau Cempedak yang tahu dengan tari laut. Selain keluarganya, saudaranya juga masih menghafalnya. Namun, mereka bertempat tinggal tidak satu pulau dengannya. Ada yang berdomisili di Sungai Tengar dan lain-lain. Taran laut ini biasanya ditampilkan acara pembersihan kampong, selamatan kampong dan acara buang-buang pada bulan Safar yaitu tepatnya 20 Safar. Untuk mengiringi Tarian Laut, biasanya alat musik tradisional seperti musik gambus, biola, gendang dan tetawak. Ia mengakui, seni budaya ini mulai tergerus. “Dimainkan tiap hari juga tidak ada masalah, yang penting syaratnya bisa dipenuhi, selain itu alatnya juga harus mendukung, tapi sekarang generasi yang ada lebih senang dengan lagu dangdut,” ucap Bagok.
Peralatan musik untuk Tari Laut ini sangat minim. Akibatnya, permainan mereka mengakui sampai saat ini belum punya piul (biola) dan alat musik gambus. Selain minimnya peralatan untuk menghidupkan kembali seni Tari Laut, kendala lain dihadapi warga setempat juga mereka minimnya informasi dan terbatasnya pembangunan. Dari sekitar 150 rumah yang ada di Pulau cempedak, bagi sekitar 20-an rumah yang ditengari listrik dengan solar cell maupun mesin genzet pribadi. Sebagian besar warganya mengandalkan laut sebagai mata pencaharian. Untuk mencapai Pulau cempedak dari Ibukota Kecamatan Kendawangan dibutuhkan waktu sekitar 1,5 sampai 2 jam perjalanan dengan kapal motor. ***

ditulis oleh Andy C


Senin, 19 Maret 2012

Two potential ecotourist attractions offer breathtaking panoramaTwo potential tourist attractions in an isolated part of Ketapang regency, West Kalima


Two potential tourist attractions in an isolated part of Ketapang regency, West Kalimantan, are in need of extra attention from the regency administration as not many people know about the Kuri and Keruat rocky hills in Sungai Laur district or the legend surrounding them.

The Ketapang Council deputy speaker, Budi Matheus, said the administration should think of a way to develop the location as a conservation area. “The area is very exotic and should be developed into a resort area. Obviously, the hills should receive official status, too,” Budi said.

Kuri and Keruat hills are located next to each other in an area of natural forest and small hills. Ketapang is located around 245 kilometers from the provincial capital Pontianak and can be reached by traveling on the Trans-Kalimantan highway, which connects with Central Kalimantan.

The head of the Ketapang Tourism and Culture Office, Yudho Sudarto, said there was very little accurate information about the two hills. “Both the hills provide habitat for an endemic bat species, which lives in caves within them,” said Yudho.

During the fruit season, the area is known for its local durian. Yudho said the hills were potential ecotourism destinations. “The cliffs on Kuri Hill could be turned into a rock-climbing arena. We have yet to obtain information on what would be needed. So far, we only have personal accounts from locals,” said Yudho.

Breathtaking views of Kuri and Keruat hills can be enjoyed from several places along the road, such as Kalam hamlet, located around 5 km from the Sungai Laur district capital, Aur Kuning.

The peak of Kuri Hill appears like a pyramid, while Keruat Hill resembles a giant dome with vegetation covering its surface. The village of Aur Kuning offers a relatively clear view of both hills.

Marsia Milan, 22, a local midwife, has climbed to the peak of Kuri Hill on several occasions. “From close up, Kuri Hill looks like a giant boulder planted on the ground,” Marsia said in Sungai Daka village, which is located less than 3 km from Aur Kuning.

In November last year, Marsia and several of her friends hiked up Kuri Hill, only taking an hour to reach the top. “When we were near the peak, we had to hold on to tree roots to maintain our foothold,” Marsia said.

With regards to the legend surrounding the hills, an elder from Sungai Daka village, Elisius Kendek, 81, said both hills were fragments that had broken away from another larger hill called Batu Daya Hill.

Batu Daya Hill is located in Simpang Dua district, some 25 km from Aur Kuning. In the local dialect, residents call it Botuh Daya. Some call it Unta Hill, because it resembles the hump of a camel. “[Legend has it that] a giant bird became enraged when an animal disturbed its eggs. In its anger, it tore at the peak of Batu Daya Hill with its talons and some of the fragments landed near Aur Kuning and became the Kuri and Keruat Hills,” said Kendek, grandfather to 13 grandchildren and two great-grandchildren.

“According to folklore, an old man from the village, named Kek Terenggau, who was a giant, picked up the broken rocks and arranged them into a sabar bubu (fish trap) and a grindstone for his machete,” added Kendek.

The sabar bubu was made by damming up the Laur River. It can still be seen when rapids form near Sepotong village, which is located 10 km from Aur Kuning.

Magdalena Ande, 54, a local grandmother, said before being attacked by the giant bird, Batu Daya Hill was reputed to have been very tall — almost reaching the sky. “In the story passed down to us through the generations, the gigantic bird was called the burung Garuda,” added Ande. (Severianus Endi, Jakarta post)

Jumat, 13 Januari 2012

Economies and Eco Tourism Talking With Conservationist Pak Yudo Sudarto


“The only tourism that makes sense
here is eco‐tourism, which makes
conservation so important…”

Pak Yudo Sudarto is the head of the Ketapang government’s Department of Tourism, Information, Culture and Sports and in his spare time leads the Ketapang Birdwatchers Club. As one of Ketapang’s most prominent conservationists, he has worked closely with GPOCP since the early days of our organization and we are proud to have him on our Indonesia Governing Board.
Born and raised in Ketapang, Pak began his career in the civil service in the Department ofAgriculture in 1977. Early on he began to recognize the importance of protecting theenvironment, with local forests playing a key role in water management for local agriculture.
During the so-called Green Revolution, which aimed to increase agriculture productivity in the Third World, other officials were unconcerned with environmental impacts. Pak Yudo, however, was already voicing concern that pesticide-heavy approaches were creating environmental problems and countering their advantages. Later, when Pak Yudo was put in charge of
promoting tourism forest.conservation became his top concern. According to Pak Yudo, Ketapang, like the rest of Borneo, is known forits forests. “The only tourism that makes sense here is eco-tourism, which makes conservation so important. Tourism here won’t become as big as Bali anytime soon – it took them 100 years to develop a tourism industry. However, ecotourism at least will provide a longterm source of income.” Products like timber or oil are limited, so once depleted the industry is dead. If done right, eco-tourism can provide industry that can last with relatively small investments needed. We just need to keep identifying areas that have eco-tourism potential, and make sure they are protected. Pak Yudo has also been looking at ways to promote forest conservation via the promotion of non-timber forest products. Growing up, most of his toys came from the forest – children would use local seeds as marbles and make kites from tall grasses. He has been working to promote local handicrafts as potential souvenirs for tourists, but also sees the importance of a local market for products such as handicrafts and snacks. These have traditionally been made with forest products, making it important for local communities to feel the benefits of forest conservation. “Some forest products seem only accessible to the wealthy – things like carbon credit or expensive bottled water with fancy marketing. But most of the products are things that the people of Ketapang have always enjoyed; products that were much more common years ago. The goal is to keep these products available for future generations.” Pak Yudo attributes his work ethic to having five children – “maybe if I only had two children I would be more inclined to take it easy” he jokes. His open manner is not just because his official portfolio includes communication, but because “everyone has their own special knowledge, and everyone has something to teach me communication is all about improving ourselves by sharing our knowledge with each other.” Although the challenges facing Ketapang’s forests are big, Pak Yudo is not intimidated. “I’m optimistic about our future and our ability to save the forest. It’s just my mindset. I’m a civil servant after all; we have to be
positive about the future for the sake of our people.”

Minggu, 31 Juli 2011

Balai Arkeologi Banjarmasin Gali Situs Kerajaan Tanjungpura

Kamis, 28 Juli 2011 09:56 BALAI Arkeologi Banjarmasin, Kalimantan Selatan, menggali situs candi yang diduga merupakan peninggalan Kerajaan Tanjungpura di Desa Negeri Baru, Kecamatan Benua Kayong, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Terkait hal itu, Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda, dan Olahraga Ketapang, Kalbar, berencana menjadikan situs tersebut sebagai bangunan benda cagar budaya (BCB).
Kepala Disdikpora Ketapang Yudo Sudarto mengaku masih menunggu hasil kajian dari Balai Arkeologi Banjarmasin seba­gai informasi untuk mere­konstruksi situs.
“Temuan situs ini akan ba­nyak mengungkap tentang Kerajaan Tanjungpura yang pernah menjadi kerajaan kesohor di Nusantara,” kata Yudo, di Ketapang, kemarin.
Sementara itu, Kepala Balai Arkeologi Banjarmasin Bambang Sakti Wiku Atmodjo menjelaskan bahwa penggalian lanjutan tersebut akan diselenggarakan selama 10 hari.
Pihaknya berharap akan mendapat kepastian situs peninggalan kuno tersebut.

Penggalian kedua
Penggalian ini adalah untuk yang kedua kali. Tahun lalu, Balai Arkeologi Banjarmasin menemukan sumuran candi yang menjadi bukti otentik tentang pembuatan candi pada zaman Hindu.
“Pada penggalian kali ini kami akan melihat apakah bangunan yang ada, letaknya seperti apa, berapa luasnya dan berapa buah bangunannya,” jelas dia.
Sandi yang ditemukan ada tiga buah, yaitu candi utama yang berisi sumuran satu buah dan candi pengapit dua buah. Namun, tidak seperti komplek candi yang biasanya berjumlah lima sampai tujuh buah.
“Penemuan Candi Tanjungpura ini ternyata terdiri dari candi utama satu, candi pengapit hanya dua, itu pun letaknya tidak simetris di kiri kanan.”
Dia mengutarakan kemungkinan bangunan ini belum jadi seluruhnya. Juga ada spekulasi yang mengatakan bahwa tahun pembuatannya di akhir abad ke-14 yang sudah mulai masuknya peradaban Islam karena situs Keramat Sembilan yang ada di Negeri Baru, tercatat tahun 1418 masehi.
Situs resmi Humas Pemkab Ketapang menyebutkan, dalam Nagarakertagama, Tanjungpura disebut sebagai daerah bawahan Majapahit.
Naskah Nagarakertagama oleh Prapanca selesai ditulis pada tahun 1365 M, periode Raja Hayam Wuruk berkuasa pada 1350 -1389 M.
Selain bercerita tentang keraja­an Majapahit, naskah tersebut juga menceritakan kerajaan Singasari pada 1222 -1292 M.
Salah satu alur sejarah yang dapat dicermati yaitu pada saat pelantikan Gajah Mada menjadi Mahapatih Amangkubumi pada 1334 M oleh Sri Tribuana Tunggadewi pada 1328 - 1350 M, dia mengucapkan sumpah setianya, yakni Sumpah Palapa, dan Tanjungpura pada saat itu belum merupakan daerah bawahan Majapahit.
Oleh karena itu, salah satu isi sumpah Gajah Mada adalah akan menundukkan Tanjung­pura.
Sedangkan, dalam Prasasti Waringin Pitu pada 1447 M, Tanjungpura atau Tanjungnagara sudah merupa­kan nama ibu kota negara bagian Majapahit untuk wilayah Pulau Kalimantan. (Ant/B-5)

Selasa, 14 Juni 2011

Banyak Hasil Temuan Untuk Memperbaiki Data Kalimantan



Salah satu hasil dari beberapa kegiatan pengamatan yang dilaksanakan secara tetap dan berkesinambungan selama 6 tahun belakangan ini di Kabupaten Ketapang. Selain peningkatan penelitian , juga telah banyak menghasilkan informasi baru tentang keberadaan burung di Kalimantan. Beberapa catatan penting dari hasil Wmbd ini adalah terpantaunya burung misalnya jenis charadrius peroni 4 individu, ini menambah baru catatan untuk Kelimantan, karena selama ini belum pernah tercatat ada di Kalimantan Barat, kata Abdurachman Alqadri dari KBK Ketapang. Demikian juga Tringa tetanus atau trinil kaki merah , kemaren juga terpantau KBK di Pantai Bintang Mosir desa tuan tuan. Ungkapan Senada juga disampaikan oleh Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Ketapang Yudo Sudarto, SP, Msi . Penambahan data baru penemuan jenis burung ini telah menarik perhatian para ahli burung untuk mencatat daerah Ketapang. Adanya jalur migran reptor melalui Kalimantan juga terpantau oleh para pengamat burung dari Reptor Indonesia (RAIN) Bogor yang berkunjung ke Ketapang beberapa waktu yang lalu, diantaranya terpantau sikep madu Asia . Selain itu beberapa jenis burung air seperti burung berkek besar ( Numenius madagascarnensis) yang belum pernah tercatat di Kalimantan.Jenis burung air Gallirallus Philippensis , Ciconia storni atau burung kambing berparuh merah dll. Burung burung air di Kalimantan , terutama di Ketapang masih dapat terlihat , hal ini disebabkan masih banyaknya hutan rawa dan hutan mangrove yang relatip belum banyak tergarap seperti halnya hutan dataran tinggi