Jumat, 29 Agustus 2014

Akar kayu kuning kalimantan semakin sulit diperoleh


Sumber : Antara News, 7 Agustus 2014
Oleh : Adi Sagaria
Sangatta Akar kayu kuning yang merupakan tumbuhan obat tradisional Kalimantan, saat ini semakin sulit didapatkan."Sangat sulit sekarang untuk bisa menemukan kayu akar kuning di hutan," kata Uyang, warga suku Dayak Kenyah, di Sangatta, Kalimantan Timur, Kamis. Uyang, warga suku Dayak Kenyah yang tinggal di Dusun II desa Sangkima Lama, Sangatta Selatan, Kutai Timur ini, mengatakan, akar kayu kuning banyak sekali manfaatnya sebagai obat tradisional.Dulu akar kayu kuning ini sangat mudah ditemukan bahkan bisa ditemukan di sekitar kebun-kebun, namun sekarang sangat susah dan bisa dikatakan sudah mulai langka.
Dikatakan Uyang, akar kayu kuning makin sulit ditemukan karena hutan sudah habis dibabat oleh perusahaan dan warga untuk kepentingan mereka.Hutan Kalimantan termasuk Kutai Timur dulunya banyak menyimpan tanaman-tanaman khusus yang bisa dijadikan sebagai obat tradisional yang luar biasa, seperti untuk mengobati sakit perut, sakit kepala, digigit binatang, penyakit kuning, obat malaria dan untuk kesehatan tubuh sebagai jamu. "Bahkan ada salah satu jenis tumbuhan yang bisa menyembuhkan bisa gigitan ular dan sejenisnya sekarang tidak bisa lagi ditemukan," kata Uyang tanpa menyebut nama jenis kayu tersebut.
"Sangat banyak jenis tumbuhan khas Kalimantan termasuk kayu akar kuning tidak bisa lagi ditemukan karena hutan sudah dibabat," katanya.

Kamis, 28 Agustus 2014

Pohon Pasak Bumi terancam punah


Sumber : Antara News, 3 Agustus 2014
Oleh : Adi Sagaria
Sangatta Warga masyarakat Suku Dayak Basap di Desa Karangan Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timiur, semakin khawatir pohon langka Pasak Bumi terancam punah akibat pembukaan lahan perusahaan. Menurut Firmansyah, salah satu tokoh masyarakat Suku Basap di daerah itu, pembabatan hutan untuk kepentingan perusahaan mengancam keberadaan pohon Pasak Bumi dan tumbuhan hutan lainnya yang bermanfaat bagi manusia. "Pohon Pasak Bumi di Karangan terancam punah dan musnah akibat pembukaan lahan untuk kepentingan perkebunan kelapa sawit dan tambang batubara," kata Firmansyah, Minggu. Pohon Pasak Bumi, kata Firmansyah merupakan salah satu jenis pohon yang paling berharga dan bermanfaat bagi masyarakat suku Basap, karena manfaatnya sangat dibutuhkan bagi kesehatan tubuh manusia.
Sejak puluhan tahun, masyarakat suku Basap hanya menggunakan obat tradisional dari kayu pasak bumi, namun kami prihatin dalam waktu beberapa tahun mendatang akan musnah dan punah. Pohon jenis Pasak Bumi ini, kata dia, saat ini hanya bisa didapatkan di hutan dan tempat-tempat tertentu. Sedangkan di tempat atau lokasi yang dulunya banyak ditemui kini sudah habis digusur untuk kebun. "Kami juga warga Suku Basap sulit untuk melakukan budidaya pasak bumi, sebab tidak semua tempat cocok ditanami. Ini pohon langka jadi sulit dibudidayakan," ujarnya. Bahkan lanjut dia, sampai sekarang ini juga belum pernah melihat bentuk dan warna buah dan bunganya. Makanya agak sulit untuk di budidaya.

Senin, 25 Agustus 2014

Tikus Raksasa Hebohkan Warga Kutai Timur

Liputan6.com, Kutai Timur - Dalam beberapa hari terakhir, warga Kutai, Kalimantan Timur, dihebohkan penemuan tikus raksasa. Hewan mirip babi yang ditangkap warga Sangatta, Kutai Timur pada Selasa 19 Agustus pekan lalu itu diperkirakan tikus raksasa langka dan nyaris punah.

"Saya belum dapat laporan, tapi kalau berwarna putih itu tikus raksasa," kata Kepala Balai Taman Nasional Kutai (BTNK) Erly Sukrismanto, saat dikonfirmasi, Minggu (24/8/2014).

Erly mengatakan pula, ia akan memerintahkan anak buahnya untuk mengecek ke tempat kejadian perkara (TKP) untuk mengetahui persis jenis hewan tangkapan warga Teluk Lingga itu.

"Saya akan perintahkan staf saya, Senin (25 Agustus 2014) ke TKP untuk melihat hewan itu," ujar dia.

Senada dengan Erly, dokter hewan Cut Meutia mengatakan hewan itu termasuk jenis tikus raksasa yang sudah jarang ditemukan bahkan salah satu hewan langka di dunia.

Menurut Cut Meutia, Hispaniola solenodon termasuk hewan langka yang hampir punah. Dan dia memiliki bisa berbahaya yang keluar dari air liur seperti ular.

Ia menjelaskan, solenodon ini akan mengeluarkan racun dari dalam tubuhnya jika merasa terancam ada musuh. Terutama bila mengenai tubuh atau badan yang luka bisa berbahaya.

"Racun dari hewan ini jika mengenai tubuh bisa menyebabkan kelumpuhan dan hingga kematian. Oleh karena itu sebaiknya tidak mendekatinya di saat tertentu," kata drh Cut Meutia yang mengaku telah melihat hewan tersebut.

Disebutkan Cut Meutia berdasarkan penelusuran yang diketahuinya, hewan ini berasal dari Kuba, bulu yang berwarna putih, mempunyai hidung yang panjang sekitar 25 centimeter dan berbau.

"Hewan ini termasuk unik di dunia, langka dan nyaris punah," jelas wanita yang bekerja pada Bagian Pengolahan Hasil Peternakan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kutai Timur, kemarin.

Sebelumnya, Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Peternakan, Diah Ningrum, mengatakan hewan atau binatang tersebut merupakan hewan langka dan beracun.

Hewan tersebut adalah solenodon merupakan mamalia kecil mirip tikus besar dan mirip babi dengan mulut moncong panjang dan ekor panjang bersisik.

"Hewan solenodon ini memiliki air liur beracun berbisa sehingga bisa menyuntik mangsanya hingga menyebabkan kematian," ujar Diah. (Ant)

Rabu, 13 Agustus 2014

Pengamatan Burung Air, Langkah Awal Lindungi Habitat Lahan Basah

Sumber : Mongabay.co.id, 21 Januari 2014
Oleh : Aji Wihardandi
  Indonesia, hingga kini masih menjadi salah satu surga burung air di dunia. Dengan bentang panjang pantai keempat terpanjang di dunia sepanjang 95.181 kilometer, berbagai lokasi di tanah air menjadi habitat berbagai spesies burung air dunia, baik spesies penetap maupun migran. Salah satunya adalah Pulau Rupat di Propinsi Riau. Menurut catatan Kelompok Studi Lingkungan Hidup (KSLH) Riau yang melakukan pengamatan pada tanggal 11 hingga 12 Januari 2013 silam, tak kurang dari 300 individu burung pantai di lokasi ini. “Pulau Rupat merupakan pulau yang berhadapan langsung dengan Malaysia. Sangat potensial untuk kehidupan burung air, karena sekitar pulau dominan ditumbuhi pohon mangrove. Kami memantau sekitar 300-an jenis burung yang bermigrasi dari Asia utara dan Himalaya, yaitu Cerek-pasir Mongolia dan Gajahan,” ungkap Heri Tarmizi, salah satu pengamat burung dari KSLH Riau.
 
Pengamatan burung pantai ini adalah bagian dari upaya untuk melindungi keberadaan berbagai spesies burung pantai yang ada di kawasan tersebut. Lewat informasi yang didapat, maka pola perubahan perilaku burung air, hal ini juga memantau kualitas habitat lahan basah yang menjadi wilayah hidup spesies-spesies burung air tersebut. Lewat informasi yang didapat, hal ini akan menentukan upaya konservasi atau perlindungan bagi sebuah kawasan tertentu.
 
Kegiatan ini berjalan bersama dengan sensus internasional yang meliputi wilayah Afrika, Eropa, dan Amerika, dibawah payung International Waterbird Census (IWC). Untuk kegiatan di Indonesia, sensus dikoordinasikan oleh Wetlands International – Indonesia Programme bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementrian Kehutanan. Lokasi pengamatan burung air biasanya dapat ditemukan di lokasi lahan basah, seperti sawah, sungai, danau, situ, rawa, daerah pesisir, hutan bakau, dan dataran lumpur dan bisa diikuti oleh semua kalangan. Menurut Yus Rusilla Noor dari Asian Waterbirds Census (AWC), acara tahunan perhitungan burung air global ini juga sebagai bagian dari upaya kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya lahan basah. Pada data hasil kegiatan sebelumnya, terbukti digunakan untuk menentukan status perlindungan dari suatu jenis burung air secara internasional.
 
Burung-burung pantai di Indonesia, juga merupakan jenis-jenis yang terancam akibat adanya berbagai perubahan habitat, perusakan habitat dan perburuan liar. Beberapa lokasi penting untuk wilayah hidup burung pantai di Indonesia juga merupakan lokasi dengan kepadatan penduduk yang tinggi sehingga kemungkinan lokasi ini akan hilang di masa mendatang. Daerah perburuan burung air dan jenis bermigrasi yang terkenal ada berada di sepanjang pantai utara Jawa Barat. ”Masyarakat menangkap burung air karena adanya tekanan ekonomi. Dengan kegiatan ini, sangat penting juga diupayakan penyadartahuan kepada masyarakat dan jika perlu penegakan aturan,” jelas Yus lebih lanjut dalam rilis medianya. Indonesia, menurut catatan Wetlands International memiliki 380 jenis burung air yang mendiami berbagai wilayah pesisir di tanah air. Sementara menurut Burung Indonesia, tak kurang dari 49 lokasi di Indonesia merupakan lokasi yang berpotensi menjadi wilayah singgahan burung air dunia yang melakukan migrasi.
 
Cangak (Ardea sp.), bangau (Ciconidae), atau pecuk (Phalacrocoracidae) merupakan jenis burung yang sangat menyukai kawasan mangrove sebagai tempat bersarang karena aman dari pemangsa. Bagi jenis-jenis pemakan ikan seperti kelompok kuntul (Egretta sp.) mangrove merupakan tempat bertengger yang kaya makanan. Sementara bagi burung air pengembara, terutama Charadriidae dan Scolopacidae, akar mangrove berguna sebagai tempat istirahat yang baik saat terjadi air pasang selama musim migrasinya.
 
Habitat lahan basah tidak hanya penting bagi burung-burung pendatang. Berbagai jenis burung penetap pun merasakan manfaat dari keberadaan kawasan ini, seperti mentok rimba (Cairina scutulata) dan bangau storm (Ciconia stormi). Tipe habitat hutan rawa air tawar dan gambut menjadi rumah mereka untuk mencari makan dan berbiak. Begitu juga dengan hutan rawa rumput yang disukai keluarga keluarga Ardeidae, Anatidae, Rallidae, dan Jacanidae. Di daerah Tulang Bawang, Lampung, tercatat ribuan ekor blekok sawah (Ardeola speciosa), cangak merah (Ardea purpurea), kuntul besar (Casmerodius albus), dan kowak-malam abu (Nycticorax nycticorax) berkoloni sarang pada rimbunan rumput gelagah.
 

Selasa, 12 Agustus 2014

Penelitian: Indonesia Terbanyak Spesies Burung Dengan Keunikan Evolusi

Sumber : Mongabay.co.id, 11 April 2013

Oleh : Aji Wihardandi Indonesia, Australia dan Selandia Baru adalah wilayah-wilayah dimana paling banyak terdapat spesies burung yang memiliki keunikan dalam evolusi mereka karena tidak berbagi kesamaan DNA dengan spesies-spesies burung lainnya. Hal ini terungkap dalam penelitian yang dipmpin oleh Arne Mooers dari Simon Fraser University, dan Wakter Jetz dari Yale University. Penelitian ini untuk pertamakalinya menyusun sebuah urutan (ranking) berdasarkan keunikan evolusi (evolutionary distinctiveness) setiap spesies burung di dunia. Para peneliti ini menyusun 9.993 spesies burung di seluruh dunia, dan berhasil mengidentifikasi 100 kawasan di dunia dimana perlindungan dan konservasi ekstra diperlukan untuk menyelamatkan keragaman hayati burung dunia.
“Spesies-spesies yang memiliki keunikan evolusi  ini membutuhkan perhatian konservasi yang khusus, karena mereka sangat tidak tergantikan -mereka tidak saling memiliki keterkaitan DNA satu sama lain,” ungkap Arne Mooers dari Simon Fraser University. Salah satu burung yang paling tinggi skornya dalam keunikan DNA ini adalah Oilbird (Steatornis caripensis). “Kami menggunakan data genetis untuk mengidentifikasi spesies-spesies burung yang memiliki hubungan paling sedikit dalam “Pohon Kehidupan”, dimana spesies-spesies yang berada di puncak memiliki keunikan paling tinggi dan skor tertinggi dalam Indeks Keunikan Evolusi”,” jelas Mooers lebih lanjut. Indeks ini sendiri akan melengkapi dan memperbarui struktur ‘Pohon Kehidupan” burung dunia yang pernah diterbitkan di jurnal Nature tahun 2012 silam. Para ahli mengabungkan indeks ini dengan resiko kepunahan dan mmetakan dimana burung-burung ini hidup. Hasilnya adalah sebuah peta burung dunia yang menyebar di berbagai belahan dunia, dan lokasi-lokasi utama dimana burung-burung dunia paling terancam punah.
Memetakan lokasi burung-burung dengan keunikan evolusi di planet ini memberikan pemahaman dimana area-area dan negara-negara tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap burung. “Kami juga menemukan bahwa jika kita memprioritaskan burung-burung yang terancam sesuai urutan keunikan mereka, kita sebenarnya sudah mendekati kemungkinan terbesar untuk menyelamatkan proses evolusi burung dunia,” jelas Mooers lebih jauh. “Artinya metode kami bisa mengidentifikasi sejumlah spesies yang tidak boleh hilang dan hal ini bisa juga digunakan untuk menyimpan informasi berisi sejumlah spesies yang bisa diselamatkan di masa mendatang. Hal ini merupakan tujuan utama dari biologi konservasi.”

Selasa, 05 Agustus 2014

Maleo, Si Burung Unik dari Kawasan Wallacea


Sumber : Mongabay, 3 Juli 2014
Oleh : Ridzki R. Sigit Tidak pas rasanya membicarakan burung Sulawesi tanpa membicarakan maleo, seperti tidak sah pengamatan burung di Sulawesi tanpa melihat maleo. Karena maleo identik dengan ekosistem wallacea Sulawesi dan Sulawesi identik dengan maleo. Maleo senkawor (Macrocephalon maleo) adalah salah satu jenis burung endemik Sulawesi yang sangat melegenda, yang tersebar di seluruh Pulau Sulawesi (kecuali semenanjung selatan) dan Pulau Buton. Burung ini dikenal dengan nama beragam di tiap daerah, seperti senkawor (Minahasa), tuanggoi (Bolaang Mongondow), bagoho atau panua (Gorontalo) dan sebagainya.
Burung ini termasuk dalam suku Megapodiidae, suku yang tersebar di Indo-Australia dan kepulauan-kepulauan Pasifik. Maleo adalah satu-satunya jenis dalam marga Macrocephalon. Macrocephalon sendiri berasal dari kata Yunani makrocephalos yang berarti kepala besar. Nama ini diberikan karena memang bentuk kepala maleo sedikit aneh dibandingkan kepala burung lain, ada tonjolan besar mirip konde yang menjulang di bagian belakang kepala. Postur maleo tegap dengan corak hitam di bagian perut dan putih bersih atau berona merah jambu di dada. Sementara kakinya besar dan kokoh digunakan untuk menggali tanah. Seperti halnya anggota suku Megapodiidae yang lain, burung ini bertelur di dalam pasir yang hangat atau tanah yang dekat sumber panas bumi. Biasanya, maleo terbang menuju lokasi bertelurnya (nesting ground) berpasang-pasangan di pagi hari.
Secara bergantian, pasangan tersebut akan membongkar tanah, pasir, dan kerikirl, hingga terbentuk sebuah lubang besar dengan diameter sekitar setengah meter. Sang betina kemudian akan diam sejenak di dalam lubang untuk bertelur. Sementara sang jantan hilir mudik mengitari lubang dengan berusaha menjulur-julurkan lehernya, waspada terhadap segala bahaya. Ketika sang betina keluar, mereka kembali bergantian menutup lubang. Sambil menimbun, sesekali mereka seperti berlari-lari kecil di atas timbunan untuk memadatkan tanah. Selanjutnya pasangan burung itu kembali menimbun dan memadatkan tanah hingga mereka rasa cukup. Artinya, permukaan tanah tak harus rata seperti sedia kala. Selesai melaksanakan tugasnya, pasangan itu kembali ke hutan sementara sang telur memulai perjuangannya sendiri.
Si Piyik Harus Berjuang Sendiri
Maleo tidak pernah mengerami telurnya sendiri, mungkin karena ukuran telurnya yang super besar. Telur maleo setara dengan 4-5 kali bobot telur ayam kampung dan dapat mencapai 10-17 persen dari induk betinanya. Lazimnya telur berbentuk oval dan cokelat pucat, dengan persentase kuning telur sekitar 60 persen. Dalam kesunyian gelap, berteman pasir hangat 32-35 derajat celcius, sang anak burung berkembang dalam eraman alam. Sementara sang induk pergi entah ke mana dan tak akan pernah dia kenal lagi. Dalam setahun diperkirakan maleo bertelur sekitar 10 kali. Sekitar 60 hari kemudian, anak maleo sudah terbentuk sempurna di dalam cangkang. Dengan posisi sungsang, kaki menghadap ke atas, sang piyik akan menghancurkan cangkang lalu menerjang timbunan tanah atau pasir di atasnya. Perjuangan mencapai permukaan itu berlangsung seharian, bahkan bisa sampai dua hari. Tepat sebelum mencapai permukaan, sang piyik akan memutar posisinya hingga kepala berada di atas sehingga saat muncul di permukaan tanah kepalanya akan timbul terlebih dahulu. Itu pun jika beruntung, namun jika sial ia akan kehabisan tenaga di tengah jalan gelapnya ataupun terjerat akar liar, sehingga akan mati terkubur hidup-hidup. Ketika kepala sang piyik muncul ke permukaan, biasanya dia akan diam sejenak. Perlahan mengeluarkan seluruh tubuhnya dari timbunan tanah, mengambil nafas dalam-dalam untuk melancarkan seluruh peredaran darahnya dan mengembangkan seluruh organ-organnya, seperti layaknya kupu-kupu baru keluar dari kepompong. Setelah itu sang anak langsung terbang, mencari dahan-dahan terpendek yang ada.
Ancaman Kepunahan Menghantui
Namun demikian, banyak ancaman yang menanti kehidupan maleo. Pencurian telur oleh manusia atau biawak air Varanus salvator juga kerap terjadi. Belum lagi jika suhu tanah berubah dalam kisaran yang drastis akibat cuaca tak menentu maka telur akan busuk. Selain kehabisan tenaga atau tersangkut akar liar selama perjalanan ke permukaan tanah, anak maleo yang baru menetas pun dapat menjadi sasaran empuk diganyang tikus tanah sebelum sempat melihat matahari terbit. Setelah selamat sampai permukaan pun tidak berarti aman sepenuhnya. Kali ini anjing kampung (jika nesting-ground dekat dengan pemukiman) maupun biawak siap memangsa. Ancaman habitat untuk kelestarian maleo juga tak kalah besarnya. Berubah dan terganggunya fungsi lahan pada lokasi peneluran dapat menyebabkan maleo enggan bertelur di lokasi itu lagi. Belum lagi jika koridor antara hutan dan lokasi peneluran, -yang harusnya tetap berupa hutan-, terputus. Saat ini banyak lokasi peneluran maleo yang berada di pantai terputus koridornya dengan hutan utama karena adanya permukiman, kebun, bahkan jalan raya. Hilangnya hutan sebagai habitat utama mereka juga jelas akan menggangu kelangsungan hidup mereka.
Saat ini BirdLife International memperkirakan hanya tersisa 8.000—14.000 individu maleo dewasa di alam, dengan kecenderungan populasi yang menurun. IUCN menggolongkan jenis ini dalam kategori Genting (endangered). Beberapa lokasi peneluran sudah benar-benar ditinggalkan maleo sementara di beberapa lokasi punah secara lokal. Usaha penangkaran pun belum ada yang dapat dikatakan sukses. Maka tanpa usaha keras melindungan habitat, koridor, lokasi peneluruan, individu, serta telur-telur mereka secara khusus, ancaman kepunahan makin mendekat. Dalam artikel kerjasama antara Mongabay-Indonesia dan Burung Indonesia untuk bulan Juli 2014 ini, anda bisa mengunduh kalender digital untuk perkakas elektronik atau komputer anda. Tinggal klik tautan ini dan simpan dalam perangkat anda.

Minggu, 03 Agustus 2014

Bulaksetra Jadi Kawasan Wisata Edukasi Mangrove


Sumber : Pikiran Rakyat Online, 18 Mei 2014
Parigi Hutan mangrove yang kini menjadi kawasan wisata edukasi mangrove Bulaksetra, di Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, diakui memiliki banyak manfaat. Selain sebagai penjaga garis pantai, kini lokasi itu telah menjadi kawasan edukasi. Bahkan, pengunjung tidak hanya dapat menikmati keindahan panorama alam di sana. Mereka pun dapat turut serta menjaga dan melestarikan hutan mangrove. Salah satunya dengan cara menanam bibit pohon mangrove. Dijelaskan Iwan Yudiawan selaku Ketua Himpunan Pecinta Alam Ilalang, para pengunjung dapat menanam tanaman mangrove di sana. “Mereka dapat berperan melestarikan alam. Juga menambah pengetahuan tentang mangrove,” ucapnya Minggu (18/5/2014).
Dijelaskan dia, kawasan Wisata Edukasi Bulaksetra memiliki luas 17,5 hektare. Dan, telah dirintis sejak tahun 2007. Banyak hal yang didapat dari wisata edukasi mangrove. Pengunjung dapat mengetahui betapa pentingnya hutan itu sebagai penahan abrasi, dan tsunami. Salah satunya, PT Pos Indonesia. Ketika itu, mereka menanam 100 pohon mangrove. Dikatakan Budhi Setyawan selaku Direktur Tekhnologi dan Jasa Keuangan PT Pos Indonesia, kegiatan penanaman pohon itu sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan. “Tempat ini perlu terus dikembangkan, dijaga kelestariannya, dan dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi. Sebab, banyak orang yang belum mengetahui manfaat hutan mangrove,” ujarnya. Budhi berharap, akan terus bertambah orang dan masyarakat yang tergugah kepeduliannya terhadap lingkungan. Terutama hutan mangrove yang mampu menjaga garis pantai.